Kualitas Mutiara Sulawesi Tenggara

 

 

mutiaraMuna – Ini adalah cangkang kerang. Sedang benda asing yang menempel pada cangkangnya, dikenal dengan sebutan mutiara. Benda yang sesungguhnya tak diinginkan oleh sang pemilik cangkang. Masuk ke dalam cangkang secara tidak sengaja. Namun karena manusia menganggapnya indah, maka benda asing itu disyukuri keberadaannya.  Mutiara, benda bulat berkilau ini, telah banyak dibudidayakan. Namun sayangnya budidaya yang selama ini berlangsung, hanya sebatas menghasilkan mutiara. Sedangkan kerangnya masih bergantung pada hasil tangkapan para penyelam.  Melalui penelitian yang panjang, kerang mutiara yang hidup di dasar laut, akhirnya bisa dibudidayakan. Muncullah lokasi budidaya kerang mutiara seperti di Kecamatan Pasir Putih dan Pulau Kayu Angin. Dua wilayah di Kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara.  

t4

Ditempat ini, ribuan kerang penghasil mutiara, dipelihara dari kecil, dalam kantung-kantung yang secara bertahap disesuaikan dengan ukuran tubuhnya. Kerang calon indukan ini dipelihara hingga berukuran tiga belas hingga lima belas sentimeter. Untuk mencapai ukuran tersebut di butuhkan waktu sekitar dua tahun. Usia yang ideal untuk mulai ditanam inti mutiara. Selama masa pemeliharaan, secara rutin kerang dikeluarkan, dibersihkan cangkangnya dari siput dan hewan laut lain yang menempel. Tujuannya agar kerang dapat menyerap makanannya secara maksimal.  Ketika tiba waktunya untuk menanam inti, kerang dimasukan dalam keranjang yang agak rapat untuk dipuasakan. Tujuannya agar kerang menjadi lemas dan cangkang mudah dibuka. Untuk mendapatkan mutiara, inti atau nukleus hanya ditempelkan pada cangkang bagian dalam. Cara ini akan menghasilkan mutiara setengah bulat dengan beberapa variasi bentuk.  Namun ada juga yang memasukan nukleus kedalam tubuh induk kerang dengan sebuah operasi kecil. Cara ini menghasilkan mutiara berbentuk bulat penuh. Hanya saja dibutuhkan teknik khusus, ketelitian serta kesabaran untuk mengerjakannya. Sebab kesalahan kecil bisa menyebabkan induk kerang mati, atau memuntahkan kembali nukleus yang telah ditanam.

 Setelah nukleus ditanam di dalam cangkang, sang induk dimasukan dalam keranjang dan dikembalikan ke laut dengan posisi mendatar. Untuk beberapa minggu, posisi keranjang dibalik secara bergantian. Agar inti berada pada posisi yang benar dan tidak dimuntahkan.  Barangkali sebuah petaka bagi kerang, ketika upayanya mempertahankan diri, dianggap menghasilkan karya yang indah oleh manusia. Hidup di dalam cangkang yang keras termasuk cara kerang menghindari pemangsa. Didalam cangkang, sang induk kerang akan memperlakukan nukleus sebagai benda asing.  Ketika benda asing masuk kedalam cangkangnya yang aman, biasanya kerang akan muntah, untuk memaksanya keluar. Namun ada saatnya tamu tak diundang ini sulit diusir begitu saja. Sang pemilik rumah akhirnya membiarkan tamu asing ini menjadi bagian dari dirinya. Agar tidak membahayakan, induk kerang mulai melumurinya dengan suatu zat berwarna putih keperakan. Hasilnya adalah benda yang membulat, keras, halus dan berkilauan. Itulah mutiara.  Budidaya kerang mutiara di Sulawesi Tenggara menghasilkan butiran kerang yang diekspor ke luar negeri. Usaha ini selain menyerap tenaga kerja, juga merupakan usaha menggali kekayaan laut yang belum sepenuhnya dikelola.   mntr

Sayangnya usaha ini membutuhkan modal yang besar, dan penelitian yang lebih mendalam untuk dapat menghasilkan anakan calon induk. Sebab selama ini, pengelola masih dibatasi dengan ketergantungan pada calon indukan yang didapat dari alam

Tinggalkan Balasan

Anda harus masuk log untuk mengirim sebuah komentar.